Tingkat Menengah

Tahapan Menggunakan Sebuah Karya agar Tidak Terjerat Hukum Hak Cipta

Karya seseorang wajib dihargai, itulah alasan dibentuknya hak cipta ada. Suatu karya yang dihasilkan orang lain sifatnya melekat. Artinya, jika Anda menyalin atau menggandakan hasil kerja orang lain tanpa seizin pembuatnya, itu merupakan perbuatan tidak adil dan dapat menimbulkan masalah. 

Ya, melanggar hak cipta dapat berujung pada masalah pidana. Sanksi pidana mengenai hak cipta bahkan sudah diatur dalam Undang Undang Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. 

Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau ciptaan. Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.

Salah satu contoh nyata bentuk pelanggaran hak cipta yang berujung pada hukum pidana adalah kasus pembajakan film Indonesia yang tayang di bioskop pada tahun 2018 lalu. Film tersebut dicuri, diunggah, serta ditayangkan di salah satu web ilegal. Film itu diputar secara utuh atau ditayangkan secara online dengan cuma-cuma bagi pengunjung situs web tersebut.

Kemudian, pada bulan April 2020, pihak rumah produksi film tersebut, melaporkan pihak pemilik website atas dugaan pidana pembajakan film.

Pihak pemilik website ditangkap penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri pada Selasa 29 September 2020, di kawasan The Hok, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi. Setelah itu, Pengadilan Negeri Jambi memvonis pihak pemilik website selama 1 tahun dan 2 bulan atau 14 bulan. Terdakwa juga dibebankan membayar denda sebesar Rp200 juta subsider 3 bulan penjara.

Pembajakan film ini tak hanya merugikan industri perfilman, tetapi juga negara lantaran bisa kehilangan potensi pajaknya. Kerugian yang dialami adalah materi dan non-materi. Di mana kerugian materi mencapai Rp2,8 hingga Rp7 miliar. Sementara kerugian non-materi, bisa berimbas pada kelangsungan perfilman Indonesia, khususnya nasib pekerja film.

Aturan menggunakan karya orang lain

Seperti yang sudah disebutkan, menggunakan karya orang lain dapat berujung pada jeruji besi. Maka dari itu, jika ingin menggunakan karya orang lain, ada baiknya lakukan hal-hal berikut ini agar tidak terjerat hukum hak cipta, dikutip dari situs Hukum Online.

Mengambil atau memodifikasi gambar di internet

Mengambil gambar dari internet atau memodifikasinya tanpa izin apabila dilakukan dengan tujuan komersil, juga merupakan bentuk pelanggaran hak cipta. Karena gambar merupakan bentuk karya seni rupa yang sekaligus merupakan ciptaan yang dilindungi menurut Pasal 40 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UUHC).

Gambar yang dimaksud antara lain motif, diagram, sketsa, logo, unsur-unsur warna dan bentuk huruf indah. Perlindungan hak cipta atas ciptaan gambar berlaku selama hidup pencipta dan terus berlangsung selama 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia, terhitung mulai 1 Januari di tahun berikutnya. 

Untuk itu, sebelum menggunakan sebuah gambar yang bukan milik Anda, usahakan terlebih dahulu mencari informasi tentang sumber gambar yang bersangkutan dan mengetahui apakah pemilik gambar (baik langsung atau melalui penyedia gambar yang telah ditunjuknya secara resmi) menyediakan lisensi atau izin kepada orang lain baik dengan berbayar, nonberbayar (gambar-gambar yang merupakan publik domain) atau melalui lisensi creative commons (memberi izin pakai dengan kondisi-kondisi tertentu).

Agar terbebas dari ketidaknyamanan yang mungkin timbul di kemudian hari akibat tuntutan hukum, disarankan untuk mengikuti syarat dan ketentuan yang digariskan pemilik atau penyedia gambar sebelum gambar dipilih dan digunakan.

Namun perlu dicatat, penggunaan, pengambilan, penggandaan, dan atau pengubahan suatu ciptaan dan atau produk hak terkait secara seluruh atau sebagian yang substansial, tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap. 

Menyalin tulisan orang lain

Jika penulis menggunakan atau menyalin karya atau ciptaan orang lain dalam tulisan atau bukunya, tanpa menyertakan sumber, sehingga timbul kesan bahwa ia sendiri yang menciptakan karya tersebut, ia dapat dipandang melakukan plagiarisme, karena telah melanggar hak moral pencipta untuk dicantumkan namanya.

Nah, agar terhindar dari plagiarisme, tips berikut perlu diingat dalam menulis.

  1. Tulis karya yang Anda kutip dalam bentuk kutipan langsung, dalam tanda petik "..." (quotation marks) dengan menyebut sumbernya baik dalam teks, di catatan kaki dan di akhir karya tulis berupa daftar pustaka. Untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber karya yang dikutip harus dilakukan secara lengkap dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit jika ada. 
  2. Jika mengambil ide dari tulisan orang lain dan menuangkan kembali idenya atau seluruhnya dengan kata-kata sendiri (paraphrasing), tetap harus menyebut sumbernya.


Artikel Sebelumnya