Tingkat Menengah

Pentingnya Mengenali Ancaman Pelecehan dan Cara Mengatasinya di Media Sosial

Banyaknya media sosial yang ada saat ini, mulai dari WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, TikTok, dan lain-lain, jika digunakan secara bijak dan dimanfaatkan dengan baik, bisa memberikan banyak dampak positif. Selain bisa menjadi media penghiburan, media sosial juga dapat memberikan informasi yang kita butuhkan.

Tapi jangan lengah, menggunakan media sosial juga bisa membawa risiko yang signifikan. Meski tampak menyenangkan dan tidak berbahaya, tetapi faktanya sama sekali tidak seperti itu. Siapa pun yang menggunakan media sosial, berisiko menjadi korban penipuan atau penjahat dunia maya.

Salah satu kejahatan di dunia maya yang cukup mengkhawatirkan adalah pelecehan seksual atau sexual harrasment dunia maya. Pada tahun 2017, Stop Street Harassment, sebuah organisasi keadilan gender di Amerika Serikat, mencatat sebesar 77 persen perempuan mengalami pelecehan verbal, dan sekitar 41 persen di antaranya terjadi di dunia maya. 

Di Indonesia, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di dunia maya meningkat sebesar 300 persen di akhir tahun 2019. Data dari Komnas Perempuan mencatat kenaikan yang cukup signifikan dari 97 kasus pada tahun 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019. 

Pihak Komisioner Komnas Perempuan, menyebutkan kasus yang banyak terjadi adalah penyebaran foto atau video porno. Kebanyakan dari pelaku merupakan orang terdekat korban, seperti pasangan, ataupun orang-orang terdekat yang berada di lingkungan korban.

Nah, agar Anda lebih waspada dan terhindar dari pelecehan yang beredar di dunia maya, berikut jenis-jenis pelecehan seksual secara daring; 

Spamming dengan komentar tidak pantas 

Bentuk pelecehan seperti ini pasti sudah sering Anda temui. Pernahkah Anda melihat seseorang mengunggah foto di media sodial, kemudian ada yang menulis komentar tidak menyenangkan, seperti menggoda atau komentar berbau porno. Komentar seperti 'wuih badannya' yang nampak biasa saja, ternyata sudah termasuk ke dalam spamming komentar yang mengarah ke pelecehan seksual. 

Pelecehan visual 

Pelecehan visual dilakukan dengan mengirimkan foto-foto yang kurang pantas yang berkaitan dengan privasi tubuh seseorang. Pelaku pelecehan seksual biasanya mengirimkan foto, gif atau video. Tidak hanya itu, pelecehan visual juga bisa dalam bentuk gambar lelucon seperti meme.

Sexting atau sex testing

Sexting merupakan aktivitas mengirimkan atau mengunggah konten intim, seperti foto telanjang atau setengah telanjang, juga pesan teks bermuatan seksual, tanpa persetujuan kedua belah pihak.

Nah, jika ada seseorang di media sosial, baik yang Anda kenal ataupun tidak, yang memulai percakapan berbau seks dengan Anda, tapi Anda keberatan dan lawan bicara Anda tetap tidak menghiraukannya, berarti dia sedang melecehkan Anda. 

Body shaming

Istilah body shaming pasti sudah tidak asing di telinga. Ya, body shaming juga merupakan salah satu dari bentuk pelecehan seksual, karena sudah menyerang kepada aspek seksualitas seseorang. 

Para pelaku body shaming biasanya sering mengejek, menghina, dan memberikan standar fisik seseorang berdasarkan gender, seperti perempuan harus cantik, mulus, putih dan feminin. Sedangkan pria harus maskulin. Secara sadar atau tidak, body shaming adalah bentuk pelecehan yang paling banyak ditemui di dunia maya. Biasanya pelaku melakukan body shaming ini melalui pesan pribadi atau komentar.

Hal-hal yang harus dilakukan jika mengalami pelecehan di dunia maya

Anda harus mengambil tindakan jika mengalami pelecehan di dunia maya. Berikut hal-hal yang harus Anda lakukan jika mengalaminya, dikutip dari Womantalk. 

Manfaatkan fitur report atau lapor di media sosial

Saat Anda menerima DM atau pesan pribadi berupa kata-kata atau ajakan bermuatan seksual, manfaatkan fitur-fitur yang sudah disediakan masing-masing platform media sosial. 

Misalnya, di Twitter ada BRIM (block, report, ignore, mute), atau di Instagram ada fitur matikan komentar dan filter kata-kata yang tidak diinginkan. Facebook pun memiliki mekanisme report yang memungkinkan kita melaporkan berbagai konten, begitu juga dengan grup, halaman, komentar, profil, maupun pesan.

Jangan dibalas

Hindari membalas komentar-komentar pelecehan tersebut satu per satu. Kesal ketika membaca komentar warganet yang menulis komentar seksis maupun bernada seksual memang seringkali mendorong kita untuk berkomentar balik. Namun yang sering terjadi, meresponnya justru memulai lingkaran setan yang memperburuk masalah dan memperkeruh suasana bagi korban ketika mereka meminta bantuan hukum. 

Beri tindakan tegas

Selain menghindari untuk memberi respons pelaku pelecehan online, beri tindakan tegas untuk mengedukasi warganet lainnya bahwa melakukan tersebut adalah hal yang mengganggu. Contohnya dengan mengungkap hal ini ke pengikut lewat Instagram Story. Apalagi jika yang dilakukannya jelas-jelas bermuatan seksual dan melecehkan Anda.

Simpan tangkapan layar sebagai bukti 

Pelecehan kadang dimulai ringan dan ditanggapi dengan enteng, tetapi hal ini mungkin bisa terus bertambah parah. Pada saat yang sama, kekerasan atau kejahatan yang terjadi secara online punya karakteristik cepat menyebar tetapi susah untuk dicari jejaknya, dan sangat mungkin pelakunya menghapus bila sudah menyebar. 

Ketika ini terjadi, korban harus memiliki salinan bukti pelecehan dan komentar jahat seperti percakapan berisi ancaman dan lain sebagainya, yang akan dibutuhkan jika Anda ingin mengajukan tuntutan.

Laporkan dan cari bantuan

Pelecehan seksual termasuk satu dari 15 bentuk kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan yang mengakibatkan trauma psikis. Selain melaporkannya kepada lembaga hukum, Anda juga bisa mengadukannya ke Komnas Perempuan. 

Atau, bisa minta bantuan pemulihan dengan membagikan pengalaman buruk Anda di berbagai kegiatan di komunitas, baik online maupun offline seperti di Hollaback Jakarta (Instagram @hollaback_jkt), Perempuan Peduli (@perempuanpeduli), atau House of the Unsilenced (@Unsilenced_). 


Cara menghindari pelecehan di dunia maya

Jangan sembarang menerima ajakan pertemanan

Tidak jarang kita menerima ajakan pertemanan di media sosial hanya karena tertarik melihat foto profil, padahal kita tidak mengenalnya. Nah, untuk menghindari terjadinya pelecehan, lebih baik membatasi pertemanan Anda. 

Gunakan fitur privasi

Gunakan atau setting fitur privasi di media sosial agar foto-foto atau apapun yang Anda bagikan di media sosial, tidak dapat dilihat dan diunduh oleh orang tak dikenal. 

Jangan unggah foto yang mengundang

Pikirkan dulu sebelum mengunggah sebuah foto, apakah pantas atau aman dibagikan di media sosial? Terutama foto-foto yang dapat mengundang pelecehan, seperti sedang menggunakan pakaian minim atau yang lainnya. 

Jangan ceritakan kehidupan pribadi di media sosial

Berhati-hatilah dalam membuat status, jangan mengumbar kehidupan pribadi. Terutama kegiatan dan keberadaan Anda. Ini akan membahayakan jika ada orang yang berniat jahat kepada Anda. 


Cara melindungi data pribadi

Agar terhindar dari kejahatan yang mengintai di sosial media, melindungi data pribadi juga tidak kalah penting untuk dilakukan. Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk melindungi data pribadi. 

'Data is the new oil', pernyataan singkat dari seorang ilmuwan Inggris yang bernama Clive Robert Humby pada tahun 2006 lalu. Pada saat ini, berbagai negara telah meningkatkan perhatiannya untuk melindungi berbagai data yang ada di ruang siber. 

Salah wujud perlindungannya adalah dengan diterbitkannya General Dara Protection Regulation (GDPR) yang diterapkan di wilayah Eropa sejak 2018. Lalu bagaimana cara kita secara pribadi dalam melindungi data pribadi kita:

Hapus Informasi Pribadi dari Profil Media Sosial 

Informasi pribadi seperti alamat rumah, nomor handphone, dan pekerjaan, sebaiknya segera dihapus dari kolom profil di media sosial. Informasi itu cukup bagi peretas untuk menyerang Anda. 

Selalu Pantau Pengaturan Keamanan di Media Sosial 

Salah satu langkah untuk memperkuat keamanan di media sosial adalah selalu memerhatikan pengaturan akun Anda. Perhatikan pengaturan privasi di ponsel. 

Salah satu cara untuk mencegah orang lain mengetahui posisi Anda adalah dengan mematikan layanan lokasi dari GPS. 

Berhati-hati dengan email yang tidak dikenal 

Teknologi yang digunakan oleh email spam sudah semakin canggih. Oleh sebab itu, selalu berhati-hati ketika menerima email dari pengirim yang tidak dikenal. 

Gunakan beragam password 

Pastikan tidak menggunakan password yang sama untuk beragam akun. Hal ini berbahaya sebab ketika orang lain mengetahui satu password dari sebuah akun Anda, ia dapat membuka akun-akun lainnya . 

Multifactor authentication

Kredensial diri dapat dibagi menjadi tiga kategori: 

1. Segala hal yang kita tahu (contoh: password dan PIN); 

2. Segala hal yang kita miliki (contoh: kartu debit, kartu kredit, ataupun gadget kita); 

3. Segala hal yang mengidentifikasi diri kita (contoh: sidik jari, iris mata, ataupun retina). 

Multifactor authentication hanya dapat terjadi jika kita memasukan dua kategori kredensial yang berbeda. Jika kita memasukkan dua password yang berbeda itu belum dapat disebut sebagai multifactor authentication.

Jika dimanfaatkan dengan baik, media digital seperti media sosial, mesin pencari, portal online, serta berbagai aplikasi, bisa memberikan banyak manfaat, di antaranya menambah informasi, berbisnis, menambah teman hingga membantu orang lain. Maka dari itu, bijaklah dalam menggunakan media digital agar tidak membawa dampak buruk bagi Anda, termasuk mengalami pelecehan dan bocornya data pribadi.


Artikel Sebelumnya