Ikhtisar

Menjaga Hak Cipta dan Kepemilikan Sebuah Karya

Hak cipta merupakan hak eksklusif yang secara otomatis diberikan pada seorang pembuat karya atas karya-karyanya. Di mana hak cipta adalah kekayaan intelektual dalam berbagai bidang, demikian seperti dikutip Copyright Alliance. 

Sebagai contoh, Anda membuat sebuah artikel yang akan ditayangkan di blog, website atau platform lainnya, kemudian Anda juga menyertakan gambar yang diambil dari internet. Nah, dalam artikel tersebut, Anda harus mencantumkan nama buku dan pemilik foto yang Anda gunakan, karena adanya hak cipta. 

Kegunaan atau fungsi hak cipta

Hak cipta berfungsi untuk menghargai suatu karya dan mendorong pencipta karya tersebut untuk menghasilkan karya baru. Pada peraturan Perundang-undangan Indonesia, fungsi dan sifat mengenai hak cipta sudah diatur dalam Pasal 2 UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, sebagai berikut. 

  • Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya yang timbul secara otomatis, setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
  • Pencipta dan atau pemegang hak cipta atau karya sinematografi dan program komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial.

Jenis ciptaan yang dapat dilindungi

  1. Buku, program komputer, pamflet, perwajahan (layout) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain. 
  2. Ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu. 
  3. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. 
  4. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks. 
  5. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim. 
  6. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan. 
  7. Arsitektur
  8. Peta
  9. Seni Batik
  10. Fotografi
  11. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

Sanksi pelanggaran hak cipta

Suatu konten yang dihasilkan oleh orang lain sifatnya melekat. Jika Anda menyalin atau menggandakan hasil kerja orang lain tanpa seizin pembuatnya, itu merupakan perbuatan tidak adil dan dapat menimbulkan permasalahan, salah satunya masalah pidana. 

Sanksi pidana mengenai hak cipta diatur dalam Undang Undang Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Beberapa pasal yang mengaturnya, antara lain Pasal 113, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 52.

Tahapan Menggunakan Sebuah Karya Agar Tidak Terjerat Hukum Hak Cipta

Karya seseorang wajib dihargai, itulah alasan dibentuknya hak cipta. Suatu karya yang dihasilkan orang lain sifatnya melekat. Artinya, jika Anda menyalin atau menggandakan hasil kerja orang lain tanpa seizin pembuatnya, itu merupakan perbuatan tidak adil dan dapat menimbulkan masalah, termasuk sanksi pidana. 

Maka dari itu, jika ingin menggunakan karya orang lain, lakukan hal-hal berikut ini agar tidak terjerat hukum hak cipta. 

Mengambil atau memodifikasi gambar di internet

Gambar yang dimaksud antara lain motif, diagram, sketsa, logo, unsur-unsur warna dan bentuk huruf indah.

Sebelum menggunakan sebuah gambar yang bukan milik Anda, usahakan terlebih dahulu mencari informasi tentang sumber gambar yang bersangkutan dan mengetahui apakah pemilik gambar (baik langsung atau melalui penyedia gambar yang telah ditunjuknya secara resmi) menyediakan lisensi atau izin kepada orang lain baik dengan berbayar, nonberbayar (gambar-gambar yang merupakan publik domain) atau melalui lisensi creative commons (memberi izin pakai dengan kondisi-kondisi tertentu).

Agar terbebas dari ketidaknyamanan yang mungkin timbul di kemudian hari akibat tuntutan hukum, disarankan untuk mengikuti syarat dan ketentuan yang digariskan pemilik atau penyedia gambar sebelum gambar dipilih dan digunakan.

Namun perlu dicatat, penggunaan, pengambilan, penggandaan, dan atau pengubahan suatu ciptaan dan atau produk hak terkait secara seluruh atau sebagian yang substansial, tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta jika sumbernya disebutkan atau dicantumkan secara lengkap

Menyalin tulisan orang lain

Menyalin tulisan orang lain tanpa menyertakan sumber, dapat dianggap sebagai plagiarisme. Untuk mencegah hal tersebut, tips berikut perlu diingat dalam menulis. 

  1. Tulis karya yang Anda kutip dalam bentuk kutipan langsung, dalam tanda petik "..." (quotation marks) dengan menyebut sumbernya baik dalam teks, di catatan kaki dan di akhir karya tulis berupa daftar pustaka. Untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber karya yang dikutip harus dilakukan secara lengkap dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit jika ada. 
  2. Jika mengambil ide dari tulisan orang lain dan menuangkan kembali idenya atau seluruhnya dengan kata-kata sendiri (paraphrasing), tetap harus menyebut sumbernya. 

Strategi Ampuh Menjaga Sebuah Karya dari Pencurian

Memiliki sebuah karya tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Ada kepuasan yang didapatkan karena kita mampu menciptakan sebuah karya dari ide dan buah pemikiran kita sendiri. 

Tentunya, Anda ingin karya yang Anda buat bisa dihargai dan diapresiasi oleh orang lain, bukan? Sayangnya tidak semua berpikir demikian. Ada saja orang-orang yang tidak berperasaan dan seenaknya mencuri karya orang lain. Terutama, jika karya Anda diunggah di internet. Berikut beberapa strategi untuk meminimalisir sebuah karya dari pencurian. 

  1. Buat karya yang unik
  2. Menambahkan watermark
  3. Jika karya dalam bentuk gambar atau foto buatlah dalam resolusi rendah 
  4. Buat orang lain mengenali karya kita
  5. Untuk membantu mengidentifikasi karya Anda, perkenalkan diri pada banyak orang
  6. Daftarkan hak cipta.
Artikel Sebelumnya