Tingkat Dasar

Mengenal Pentingnya Identitas Digital untuk Menunjukkan Citra Diri

Identitas digital adalah instrumen yang digunakan untuk membuktikan eksistensi seseorang di dunia digital. Atau bisa juga diartikan sebagai informasi tentang suatu entitas yang digunakan oleh sistem komputer untuk mewakili agen eksternal.

Agen tersebut bisa berupa orang, organisasi, aplikasi, atau perangkat. Sementara ISO/IEC 24760-1, mendefinisikan identitas sebagai sekumpulan atribut yang terkait dengan entitas.

Identitas digital sendiri, dapat berupa alamat email atau nomor telepon sebagai syarat mendaftar ke suatu layanan online. Namun belakangan, identitas digital juga bisa berupa akun media sosial.

Penggunaan identitas digital kini begitu marak, sehingga banyak yang menyebutnya sebagai keseluruhan kumpulan informasi yang dihasilkan oleh aktivitas online seseorang. Termasuk, nama pengguna dan kata sandi, aktivitas pencarian online, tanggal lahir, jaminan sosial, dan riwayat pembelian. Dalam pengertian yang lebih luas, identitas digital adalah versi atau segi dari identitas sosial seseorang. 

Tantangan identitas digital

Dalam segi layanan keuangan, alamat email, nomor telepon, atau akun media sosial saja tidaklah cukup. Sebab, siapa pun dapat memberikan alamat email atau nomor telepon palsu. Lalu, bagaimana cara membuktikan bahwa identitas seseorang adalah benar? 

Dikutip dari Kompas, salah satu tantangan utama dari inklusi keuangan adalah verifikasi calon nasabah, khususnya di level mikro. Padahal, layanan keuangan termasuk teknologi finansial yang perlu melakukan analisa risiko untuk memastikan kredibilitas calon nasabah.

Berdasarkan studi Asosiasi yang dilakukan FinTech Indonesia pada 2017 menunjukkan, 62,3 persen dari anggota menilai verifikasi calon nasabah (customer onboarding) sebagai kendala nomor satu dalam pemberian layanan keuangan secara digital.

Maka dari itu, cara paling sederhana yang dapat digunakan untuk mengenali seseorang adalah dengan meminta orang tersebut menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Melalui KTP, pemberi layanan keuangan dapat memeriksa apakah calon nasabah memang sesuai dengan data yang diakui dan wajahnya sesuai dengan foto dan alamatnya tidak palsu.

Tapi, verifikasi melalui KTP juga memiliki banyak kelemahan. Oleh karena itu, muncul konsep penggunaan data biometrik, yang saat ini sudah mulai digunakan oleh beberapa layanan perbankan. Data biometrik ini terdiri dari sidik jari, iris (mata) dan bentuk wajah, yang semuanya tersimpan dalam kartu chip pada KTP elektronik.

Cara mengamankan indentitas digital

Nah, di era saat ini, keberadaan identitas digital juga bisa menjadi peluang untuk para peretas atau penjahat siber. Salah satu contoh kasus terbaru adalah yang terjadi pada bulan Mei 2020 lalu. 

Kelompok peretas yang menamakan diri sebagai ShinyHunters, membobol data dan identitas pengguna salah satu e-commerce terbesar di Indonesia. Sekitar 91 juta identitas digital bocor. Data-data pengguna tersebut ditaksir senilar US$5.000 atau setara Rp72,3 juta. Sayangnya, kasus seperti itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara di dunia. 

Maka dari itu, dengan semakin maraknya kejahatan siber, kamu juga wajib memproteksi indentitas digital yang kamu miliki. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengamankan identitas digital. 

1. Gunakan lebih dari satu

Jangan hanya membuat satu identitas digital saja. Dengan identitas digital yang berbeda-beda, kamu akan lebih mudah mengelola dan melindungi data penting yang kamu miliki. Berikut sebagai contohnya. 

  • Identitas digital primer

Ini bisa kamu gunakan untuk keperluan penting, yang menyangkut lembaga negara, keuangan, dan perbankan. Ingat, jangan menyebarkan link yang berhubungan dengan lembaga tersebut ke media sosial, termasuk menyebarkan email dari lembaga terpercaya tersebut bila memang tidak penting.

  • Identitas digital sekunder

Identitas digital ini bisa kamu gunakan untuk keperluan tertentu saja. Misalnya untuk layanan internet, telepon seluler, TV kabel, dan sebagainya, yang terpisah dari identitas primer.

  • Identitas digital untuk media sosial

Nah, untuk keperluan media sosial, kamu dapat menggunakan identitas digital berupa email, untuk membuat atau mendaftar ke media sosial.

2. Jangan sembarangan memberikan identitas digital

Sengaja atau tidak, terkadang kamu memberikan data dan identitas digital penting kepada beberapa pihak di internet. Padahal, tindakan ini sangatlah berisiko. Untuk itu, kamu harus jeli melihat apakah pihak itu dapat dipercaya dan aman. 

Jika memang harus menyerahkan data pribadi, pastikan data tersebut hanya diberikan kepada lembaga terpercaya dan untuk konteks yang penting. Misalnya untuk pendataan penduduk, sensus, dan sebagainya, yang diselenggarakan oleh negara.

Selain itu, kamu juga harus memahami izin ataupun sertifikasi penyimpanan data identitas yang dilakukan perusahaan terkait. Hal ini dimaksudkan, agar data tidak hanya berada di tangan yang tepat, tetapi juga disimpan dengan protokol keamanan yang kuat.

3. Pakai tanda tangan digital yang terverifikasi

Tanda tanda digital diminati sebagian orang untuk mengamankan dokumen maupun identitas digital dalam perusahaan saat ini. Salah satu jenis tanda tangan digital yang dinilai banyak memiliki keunggulan adalah advanced and qualified. 

Dari segi hukum, tanda tangan digital jenis ini memiliki kekuatan yang kuat dan kedudukannya setara dengan tanda tangan basah pada kertas. Begitu juga dengan keamanannya yang sudah dilengkapi dengan kriptografi asimetris dan public key infrastructure. Penyedia layanan tanda tangan advanced and qualified juga diharuskan sudah menerapkan kebijakan proses otentikasi dua langkah.


Artikel Sebelumnya