Edukasi

Mengenal Bahaya Doxing dan Cara Mencegahnya

Baru-baru ini, seorang selebgram menjadi sorotan usai mengadakan sayembara berhadiah Rp15 juta untuk mencari identitas seseorang. Identitas orang yang dicari adalah netizen yang telah menghujat dan menghina dia di Instagram. 

Sayembara ini berawal ketika selebgram tersebut mendapatkan komentar kasar dari seorang netizen. Singkat cerita, selebgram itu tidak terima dan mengadakan sayembara untuk para pengikutnya di Instagram. Orang yang berhasil memberikan data pribadi si pelaku, akan diberi imbalan sebesar Rp15 juta. 

Namun akhirnya, selebgram itu menutup sayembara tersebut karena mendapat kritik dari berbagai pihak. Tindakannya juga memicu perdebatan di media sosial karena mengarah pada doxing. Lalu, apa itu doxing? 

Dikutip dari situs SAFEnet, doxing merupakan singkatan dari dropping documents. Secara awam, doxing dikaitkan dengan tindakan yang menyebarkan data pribadi. Doxing juga merujuk pada tindakan peretas (hacker) dalam mengumpulkan informasi pribadi, berupa alamat, nomor identitas dan data penting lainnya. 

Namun ternyata, studi mendalam tentang doxing menunjukkan, tindakan ini lebih dari sekadar membuka data pribadi dan dibagikan di ruang publik. Tetapi, doxing disebut-sebut sebagai ancaman kejahatan terbaru yang difasilitasi oleh teknologi digital.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Oxford British and World English Dictionary, mendefinisikan doxing sebagai tindakan mencari dan mempublikasikan informasi pribadi atau identitas tentang individu di internet. Biasanya, tindakan ini dilakukan dengan niat jahat.

Sementara itu, Cambridge Dictionary mendefinisikan doxing sebagai tindakan menemukan atau menerbitkan informasi pribadi tentang seseorang di internet tanpa adanya izin dari pihak yang bersangkutan. 

Kasus doxing di Indonesia

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh SAFEnet, sepanjang tahun 2017 - 2020, jumlah serangan doxing terus meningkat. Bahkan pada tahun 2020, jumlah kasus doxing meningkat dua kali lipat. 

Jenis doxing yang paling umum terjadi di Indonesia adalah delegitimasi doxing, yaitu serangan doxing dengan membagikan informasi pribadi untuk menghancurkan kredibilitas, reputasi, atau karakter korban.

Bahaya doxing 

Dikutip dari Kompas, Kepala Divisi Keamanan Digital SAFEnet, Abul Hasan Banimal, mengatakan, dampak doxing sangat berbahaya. Di mana data pribadi korban doxing bisa dimanfaatkan untuk kejahatan. Selain itu, pelaku doxing juga bisa berasal dari mana saja, selama ia memiliki akses teknologi dan internet.  

Doxing kerap meluas ke identitas teman-teman korban, keluarga, rekan kerja, organisasi dan yang mereka kenal dengan target, yang akan menuju pada tindakan perusakan, penghinaan publik, ancaman terhadap kehidupan, pencurian identitas, penipuan dan pengungkapkan gaya hidup pribadi mereka.

Umumnya, pelaku doxing memilih target dan mulai mengerjakan target dengan mengumpulkan informasi dasar, seperti nama, alamat email, nama pengguna, dan situs web terdaftar lainnya. Pelaku doxing akan menggunakan segudang sumber, seperti berita di media, jejaring sosial, aplikasi yang diinstal di ponsel, atau situs web pemerintah.

Cara mencegah doxing

Menurut Banimal, salah satu upaya paling dasar untuk mencegah doxing adalah dengan menjaga sikap, yaitu tidak sembarangan memicu konflik di internet. Selain itu, menjaga perilaku kita di media sosial juga tidak kalah penting. 

Di sisi lain, Dosen Ilmu Komputer Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Rosihan Ari Yuana, turut membagikan beberapa tips agar Anda tidak mengalami tindakan doxing. Berikut di antaranya. 

Jangan berlebihan di dunia maya

Jangan berlebihan di media sosial atau forum online. Sebab, berbagi informasi pribadi dapat dengan mudah memberi peluang kejahatan bagi pelaku.

Ubah pengaturan privasi Anda

Jadikan postingan Anda di media sosial bersifat pribadi sehingga hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya. Jangan berikan informasi pribadi saat mendaftar ke platform media sosial. Hindari juga memberikan detail pribadi, seperti tanggal lahir, kota asal, sekolah, atau informasi perusahaan Anda.

Gunakan VPN

Mendaftar dengan jaringan pribadi virtual atau VPN, dapat membantu melindungi informasi pribadi Anda dari pelaku kejahatan. Saat Anda terhubung ke internet dengan masuk ke VPN terlebih dahulu, alamat IP asli Anda akan disembunyikan. Artinya, peretas tidak akan dapat melacak alamat ini untuk lokasi Anda atau informasi identitas lainnya. 

Waspada terhadap email phishing

Pelaku doxing mungkin menggunakan penipuan phishing untuk menipu Anda agar mengungkapkan alamat rumah, atau bahkan kata sandi Anda. Berhati-hatilah setiap kali Anda menerima pesan yang diduga berasal dari bank atau perusahaan kartu kredit dan meminta informasi pribadi Anda. Lembaga keuangan tidak akan pernah meminta informasi ini melalui email. 

Informasi tertentu tidak boleh dibagikan

Pastikan untuk tidak pernah mengunggah informasi tertentu secara online, seperti alamat rumah, nomor telepon, dan informasi apa pun terkait rekening bank atau nomor kartu kredit. Ingat, peretas dapat mencegat pesan email. Jadi, Anda tidak boleh menyertakan detail pribadi dalam email Anda.

Artikel Sebelumnya