Tingkat Menengah

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Menggunakan Aplikasi

Seiring berkembangnya teknologi, marak bermunculan berbagai jenis aplikasi yang dapat Anda unduh secara legal, baik di Play Store, App Store, atau toko aplikasi lainnya. Walaupun tujuan dibuatnya aplikasi adalah untuk memudahkan pekerjaan, tetap saja Anda tidak boleh lengah saat akan mengakses aplikasi. 

Firma sekuriti Upstream, mendeteksi ada lebih dari 29.000 aplikasi Android berbahaya yang beredar pada kuartal pertama 2020. Angka tersebut bahkan naik drastis dari kisaran 14.500 aplikasi berbahaya yang tercatat paa periode yang sama tahun lalu.

Terlebih menurut Upstream, 9 dari 10 aplikasi berbahaya yang berada di urutan teratas sempat mampir di Play Store. Artinya, mereka bisa menembus sistem sekuriti Play Store yang semestinya bisa menyaring program berbahaya.

Lebih lanjut Upstream menyebutkan, sebagian besar aplikasi berbahaya yang ditemukan, masuk dalam kategori hiburan, seperti game, interaksi sosial, serta konsumsi konten seperti video player dan majalah atau koran.

Nah, untuk meminimalisir dampak dari aplikasi yang berbahaya, pastikan untuk selalu mengunduh setiap aplikasi yang Anda inginkan hanya di toko aplikasi yang sudah terpercaya, seperti App Store dan Play Store. 

Biasakan juga untuk membaca syarat dan ketentuan atau yang disebut EULA sebelum melakukan unduhan aplikasi pada perangkat Anda.    

EULA atau singkatan dari End User License Agreement, adalah sebuah kontrak dari pengembang aplikasi yang berisi tentang kondisi yang akan terjadi saat kita telah mengunduh aplikasi tersebut. Salah satunya adalah tentang akses data pribadi kita yang akan dikumpulkan oleh pengembang aplikasi.   

Setiap aplikasi yang telah diunduh akan memberikan notifikasi pemintaan izin atau "permission access" pada sistem Anda, seperti galeri, kontak atau kamera pada handphone. Pastikan permission sesuai dengan kegunaan aplikasi yang Anda unduh. Hal ini untuk meminimalisir risiko kebocoran data pribadi.   

Nah, sekarang kita akan membahas tentang risiko kebocoran data pribadi akibat pencurian data oleh pihak tertentu atau biasa disebut sebagai aktivitas hacking.   

Hacking atau peretasan mengacu pada aktivitas yang berupaya menyusupi perangkat digital. Hal ini dilakukan untuk dapat mengakses secara illegal ke sistem tertentu, dengan tujuan membahayakan atau mencuri informasi sensitif. Sedangkan orang yang melakukan kegiatan hacking disebut dengan hacker.   

Hacking dikategorikan sebagai aktivitas yang melanggar hukum apapun motivasi hacker tersebut. Mulai dari mencari keuntungan finansial, sebagai bentuk protes, mengumpulkan informasi atau hanya sekadar bersenang-senang.   

Kemudian apa saja risiko yang dihadapi jika Anda terkena hacking?   

Hacker dapat melihat data yang anda simpan di telepon, melacak lokasi Anda, memaksa ponsel Anda untuk mengirim teks ke situs web premium. Seorang hacker bahkan juga bisa mengirimkan tautan berbahaya pada orang lain dari kontak Anda yang mengatasnamakan Anda sendiri.   

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menegaskan, tindakan hacking atau peretasan dianggap sebagai suatu pelanggaran hukum. Berikut adalah beberapa pasal yang mengatur mengenai hacking, yang dikutip dari situs Kominfo. 

Pasal 30 ayat 1, ayat 2, dan atau ayat 3 UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), berbunyi (1) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik orang lain dengan cara apa pun.

(2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.

Dan, (3) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.

Selain itu juga Pasal 32 ayat 1 UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), yang berbunyi (1) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik orang lain atau milik publik.

Aturan lainnya, Pasal 22 huruf B Undang-Undang 36/1999 tentang Telekomunikasi yang berbunyi Setiap orang dilarang melakukan perbuatan tanpa hak, tidak sah, atau memanipulasi akses ke jaringan telekomunikasi; dan atau akses ke jasa telekomunikasi; dan atau akses ke jaringan telekomunikasi khusus.

Pada setiap kemudahan yang disuguhkan teknologi digital, maka akan selalu ada risiko yang harus dihadapi. Memahami kiat-kiat dalam menggunakan aplikasi dan juga pasal yang mengatur sangatlah penting, agar Anda terhindar dari risiko yang ada


Artikel Sebelumnya